• HOME




  • Buku Tamu -- Guestbook

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Daftar Isi

  • Didi Tarsidi, "Sekarang Jauh Lebih Baik"
  • Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa
  • Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pandangan Pertama
  • Didi Tarsidi: Harus Menunggu ”Orang Normal” Terurus Dulu?
  • Blind is only a Character
  • Didi Tarsidi: Menjadi Tuna Netra Bukan Halangan
  • Wacih, a world-class braille writer
  • Wacih Kurnaesih Tarsidi: Dalam Kegelapan Rasakan Indahnya Hidup
  • DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA
  • Wacih Kurnaesih Tarsidi: Meraih Sukses dengan Braille




  • Senin, 12 Mei 2008

    Didi Tarsidi, "Sekarang Jauh Lebih Baik"

    Oleh Joko Pambudi
    Pikiran Rakyat - Minggu, 11 Mei 2008

    "I view blindness just as another characteristic of one`s personal dimensions. Just like with any other undesirable characteristic (such as being too tall
    or too short), at times one has to do things differently to meet environmental challenges without sight. Many blind individuals (and most other members
    of the society alike) need counseling to be able to understand and embrace this point of view. This blog is dedicated to change what it means to be blind."

    Demikian bunyi kalimat yang tertera di halaman blog, d-tarsidi.blogspot.com. Sejumlah kalimat yang menunjukkan bagaimana sudut pandang ketunanetraan. Lebih
    jauh lagi, kalimat tersebut merupakan refleksi pengalaman hidup seorang tunanetra, sang pembuat blog, Didi Tarsidi.

    Didi, kelahiran Sumedang 1 Juni 1951, merupakan anak ketiga dari lima bersaudara putra pasangan petani. Sejak usia lima tahun, dia mengalami gangguan penglihatan.
    Pada usia 10 tahun, gangguan tersebut berubah menjadi kebutaan total. Kendati demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah semangat untuk menimba ilmu.
    Didi berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya di SLBN-A Bandung. Kemudian dia melanjutkan pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Pendidikan
    Indonesia (UPI).

    Dunia pendidikan memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan Didi. Saat ini dia tengah menyelesaikan program doktor bidang Bimbingan dan Konseling Anak
    Berkebutuhan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). "Mudah-mudahan disertasinya selesai tahun ini," ujar Didi.

    Selain itu, Didi mengisi aktivitas kesehariannya sebagai dosen tetap di Pendidikan Luar Biasa UPI Bandung. Aktivitas organisasi, sejak 1994, Didi juga dipilih
    menjadi Ketua Umum Perhimpunan Tunanetra Indonesia (Pertuni), sebuah lembaga yang beranggotakan sekitar 12.000 tunanetra. Dengan kemampuan bahasa Inggris
    dan pengalaman organisasi yang dimilikinya, Didi berkesempatan keliling Indonesia. Dalam perannya sebagai penerjemah, dia bahkan telah mengalami sejumlah
    perjalanan ke luar negeri.

    Sebagai seorang tunanetra, Didi mampu membuktikan bahwa ketunanetraan tak harus membuat seseorang menutup diri dari perkembangan informasi dan teknologi.
    Keseharian Didi kini tak lepas dari komputer jinjing (laptop). Sejumlah perangkat lunak (software) pendukung, seperti Jaws, membantu Didi dalam mengoperasikan
    komputer tersebut. Dengan perangkat yang sama, Didi aktif menjelajah dan meramaikan dunia maya. Cara itulah yang dia tempuh untuk membuka mata, melihat,
    dan memaknai perkembangan dunia.

    Didi Tarsidi hidup bersama sang istri, Wacih Kurnaesih (54), beserta kedua anaknya, Tommi Rinaldi (25) dan Sendy Nugraha (23). Dengan keramahan dan kearifan
    yang dimilikinya, Didi berbagi pengalaman untuk orang-orang di sekitarnya. Berikut petikan wawancara "PR" dengan Didi Tarsidi ketika ditemui di sela-sela
    kesibukannya di UPI, Rabu (7/5).

    Melihat riwayat pendidikan Anda yang cukup panjang, kesulitan apa yang dialami selama menjalani pendidikan sebagai seorang tunanetra?

    Sebetulnya tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi. Tetapi, kesulitan itu faktornya bervariasi dan bisa khas untuk orang-orang tertentu, seperti saya.
    Pendidikan dasar saya kan di SLB, dengan asumsi semua kebutuhan difasilitasi. Pendidikan dasar tidak menemui banyak kesulitan. Tetapi ketika mulai bersekolah
    di sekolah umum, terutama di perguruan tinggi, lingkungan pendidikan saya sangat berbeda dengan pendidikan sebelumnya.

    Saya bersekolah di sekolah umum, inklusif, hanya satu-satunya tunanetra dari 40 orang mahasiswa bahasa Inggris, dan satu dari tiga mahasiswa tunanetra di
    IKIP (sekarang UPI). Kesulitan pertama adalah akses bahan bacaan. Saya hanya bisa membaca braille waktu itu, sedangkan materi semuanya tidak dalam bentuk
    braille. Cara mengatasinya adalah saya bergantung kepada pembaca, biasanya volunteer. Ketika mereka membacakan, saya menulis dalam braille, atau saya rekam.
    Waktu tahun ’75-an, recorder masih barang mewah.

    Apakah kesulitan yang sama dialami ketika S-2?

    Kesulitannya sama, tetapi derajat kesulitannya beda. Ketika saya mulai kuliah S-2, tahun 2000, tidak punya akses ke bahan bacaan. Tetapi, cara mengatasinya
    lebih mudah. Ketika itu saya sudah mengenal teknologi komputer, termasuk scanning. Jadi bahan bacaan saya scan ke dalam komputer, lalu diedit dan disimpan.
    Bentuk akses lainnya internet. Tahun ’75-an teman-teman yang awas pun kesulitan akses internet. Tahun 2000-an, ketika saya tidak punya buku, saya bisa
    cari ke internet. Apalagi keuntungan saya adalah saya menguasai bahasa Inggris, sehingga tidak terbatas oleh bahasa.

    Bagaimana cara Anda beradaptasi dengan lingkungan?

    Ya, kesulitan berikutnya memang soal orientasi dan mobilitas, bagaimana saya bisa mengenal lingkungan, beradaptasi dalam lingkungan baru. Itu permasalahan
    yang dialami setiap tunanetra ketika dihadapkan dengan lingkungan baru. Untuk beradaptasi perlu pengalaman dan latihan. Waktu itu belum ada pelayanan khusus
    untuk orientasi mahasiswa tunanetra. Jadi, sedikit demi sedikit saya beradaptasi dengan bantuan teman-teman. Alhamdulillah saya tidak melihat orang-orang
    yang tidak peduli. Saya memang pernah kejeblos parit, sering juga kejedot truk yang parkir. Tetapi menurut saya itu bukan kendala, hanya ketidaknyamanan.

    Selama menjadi tunanetra, apakah Anda sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan?

    Perlakuan paling tidak nyaman, sebutlah sakit hati, adalah ketika didiskriminasikan. Ketika orang lain punya kesempatan, sementara saya tidak diberi kesempatan
    itu. Padahal saya tahu saya bisa. Dan banyak tunanetra mengalami pengalaman seperti itu. Contoh saja, kalau mau menggunakan jasa penerbangan, saya harus
    melalui prosedur yang tidak diharuskan kepada penumpang lain, yaitu menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut jika terjadi kecelakaan di pesawat.
    Itu sebenarnya surat yang harus ditandatangani orang sakit. Banyak orang yang tidak bisa membedakan cacat dengan sakit. Dan mendapat perlakuan seperti
    itu sangat tidak menyenangkan.

    Perlakuan seperti itu terjadi di luar atau di dalam negeri?

    Saya kira di seluruh dunia. Tetapi gradasi tingkatannya berbeda-beda. Untuk diskriminasi ini, saya melihat bahwa semakin tinggi peradaban suatu negara,
    semakin rendah tingkat diskriminasinya terhadap penyandang cacat.

    Kalau di Indonesia, bagaimana Anda menilai diskriminasi itu?

    Masih sangat kental. Tetapi saya melihat tingkat diskriminasi tersebut cenderung menurun, sangat berbeda dibandingkan dengan 20 tahun lalu. Sekarang jauh
    lebih baik keadaannya.

    Bagaimana Anda menilai akses pendidikan Indonesia bagi tunanetra saat ini?

    Sekarang lebih mudah. Apalagi sekarang pemerintah menggalakkan pendidikan inklusif. Bahkan banyak peraturan pemerintah yang mewajibkan sekolah umum untuk
    menerima orang cacat. Dulu saya harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

    Lalu bagaimana dengan akses pekerjaan bagi tunanetra?

    Mungkin lebih baik dari 20 atau 30 tahun lalu. Tetapi perkembangannya tidak sebaik kesempatan pendidikan. Kesempatan pendidikan berkembang dengan baik,
    sementara kesempatan kerja bergeser sedikit saja. Sekarang orang masih punya persepsi bahwa tunanetra hanya jadi juru pijat. Ketika ada tunanetra yang
    bisa menjadi dosen atau menggunakan komposer, dianggap sebagai kekecualian, sesuatu yang ajaib. Padahal seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang normal.
    Kalau diberi kesempatan yang sama, semua orang mungkin bisa mencapai yang sama juga. Namun, kesempatan kerja juga kan dipengaruhi oleh dua belah pihak.
    Tunanetranya harus diberi pendidikan dan keterampilan yang tepat yang bisa menunjang dunia kerja. Di pihak lain, harus ada kesempatan untuk memberi pekerjaan
    kepada tunanetra.

    Apakah sejak kecil Anda memang tertarik menjadi guru?

    Saya dibesarkan di dalam keluarga yang menghormati guru. Jadi, sejak kecil diberi image bahwa guru itu adalah orang yang perlu dihormati, pekerjaan yang
    baik, mulia, jadi sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi guru. Orang tua saya petani, tetapi mereka menghargai guru.

    Apakah hal yang sama Anda lakukan juga dalam mendidik anak?

    Ya, memang saya tidak pernah mengatakan langsung kepada anak saya untuk menghargai guru. Kedua anak saya memang tidak menjadi guru. Meskipun tidak secara
    langsung mengajarkan itu, cara terbaik mendidik anak adalah menjadi contoh. Ketika kita menginginkan anak menghormati kita, maka kita harus berbuat sesuatu
    yang bisa dihormati.

    Bagaimana awal ketertarikan terhadap bahasa Inggris?

    Dulu waktu di asrama Wyata Guna, saya sekamar dengan teman yang dua atau tiga kelas lebih tinggi tingkatannya. Waktu itu saya kelas enam, dia SMP. Dia sudah
    mulai belajar buku bahasa Inggris, jadi di kamar ada buku bahasa Inggris. Saya tertarik untuk membaca. Kalau ada yang saya tidak pahami, saya tanya sama
    dia. Lalu ketertarikan itu berkembang dan menjadikan pembaca buku. Selera musik saya juga sebetulnya musik Barat. Selain senang mendengarkan dan menyanyikannya,
    saya juga ingin memahami apa arti lagu itu.

    Lalu bagaimana dengan bimbingan dan konseling anak?

    Itu dilatarbelakangi oleh pekerjaan saya. Saya mula-mula bekerja di SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa). Lalu pindah ke Pendidikan Luar Biasa (PLB).
    Saya merasa ketika bicara PLB, secara substansi mungkin saya menguasai, tetapi secara disiplin keilmuan, saya berada di luar pagar, dan saya harus masuk.
    Studi PLB kebetulan masuk ke dalam kajian bimbingan dan konseling. Menurut saya, bimbingan konseling ditambah pengetahuan ke-PLB-an, menjadi alat efektif
    untuk mengubah persepsi tentang tunanetra dan penyandang cacat.

    Sebetulnya secara umum Anda menilai citra tunanetra di Indonesia itu seperti apa?

    Citra itu sangat bervariasi. Dari citra sebagaimana yang tergambar di perempatan jalan, sampai yang punya persepsi orang tunanetra itu hebat dan perlu dikagumi.
    Nah, kedua ekstrem itu tidak baik.

    Lalu bagaimana pencitraan tunanetra yang ideal menurut Anda?

    Yang baik adalah yang memandang tunanetra sebagai individu yang punya berbagai macam kemungkinan. Tidak ada individu yang persis sama. Dalam blog saya,
    ada satu statement yang saya pikir harus dibaca dan dipahami semua orang. Saya memandang ketunanetraan saya tidak lebih dari sekadar salah satu karakteristik
    pribadi saya. Sebagaimana karakteristik orang yang tidak ideal, misalnya terlalu gemuk terlalu tinggi, maka dia harus berbuat sesuatu untuk bisa memenuhi
    tuntutan lingkungan.

    Orang yang merasa terlalu tinggi, ketika melewati pintu yang terlalu pendek, dia akan merunduk. Saya juga begitu. Ketika saya tidak melihat, lalu tidak
    bisa mendeteksi lingkungan dengan indra saya, maka saya harus menggunakan tongkat. Jadi tongkat bagi saya sama seperti orang yang merunduk ketika melewati
    tempat yang terlalu tinggi. Atau saya harus menggunakan braille. Bagi saya kadarnya sama seperti orang yang menggunakan kacamata minus untuk membaca. Atau
    seperti orang cantik yang menggunakan kosmetik untuk terlihat lebih cantik. (Joko Pambudi)***

    © 2007 - Pikiran Rakyat Bandung

    Label:

    Jumat, 14 Maret 2008

    Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa

    Oleh Yenti Aprianti, Kompas, 14 November 2007

    Ia tak pernah tahu bagaimana warna hijau pada lumut. Namun, jika diminta mendeskripsikan lumut, ia bisa menceritakan kelembutan lumut yang menempel pada
    batu. Ia tak melihat bentuk air, tetapi ia berkisah tentang rasa sejuk yang merayap di atas kepala dengan detail.

    Sejak kecil ia dikaruniai penglihatan minim sehingga hanya mampu menangkap seberkas bayangan, tetapi perasaan dia mampu melihat lebih dalam tentang sesuatu
    di sekitarnya. Inilah yang menjadi modal Wacih Kurnaesih (53) sebagai penulis.

    Sejak muda Wacih menulis apa saja yang ia alami dan rasakan. Pada tahun 2003 ia menjadi juara dalam lomba esai penulisan tentang manfaat huruf braille
    Bagi tunanetra se-Asia Pasifik.

    Sebagai tunanetra yang gemar menulis dan membaca, Wacih sangat akrab dengan aksara braille. Apalagi sebagai guru Bahasa Indonesia, ia nyaris menyentuh
    Braille setiap hari dan mengajarkannya kepada murid-murid di Sekolah Luar Biasa A Negeri Bandung, Jalan Padjadjaran, Kota Bandung, Jawa Barat, sejak 27 tahun lalu.

    Pada esai yang ditulisnya, Wacih bercerita dengan bersemangat tentang bagaimana braille membantunya memperluas wawasan tentang dunia, juga membantunya
    Menyediakan makanan buat keluarga.

    "Di awal pernikahan saya menempelkan tulisan beraksara braille pada semua wadah bumbu di dapur agar tak salah memasukkan bahan yang dibutuhkan," kata Wacih
    yang setelah bertahun-tahun berkeluarga hafal wadah-wadah bumbu di dapur.

    Braille menjadi penanda yang memudahkan aktivitas para tunanetra. "Braille adalah aksara yang lahir dari sebuah budaya yang sejarahnya sangat panjang.
    Sepanjang kisah tentang manfaatnya. Itu sebabnya braille harus dilestarikan," ujarnya.

    Berpisah

    Perkenalan dengan braille dimulai saat dia berusia tujuh tahun. Wacih dilahirkan di Desa Dayeuh Luhur, kawasan wisata ziarah di Kabupaten Sumedang, Jawa
    Barat. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sejak lahir Wacih mengalami low vision atau keterbatasan penglihatan. Namun, seperti pada tunanetra lain,
    ia dikaruniai ketajaman rasa.

    Dengan kelebihan itu, ia tak memiliki kendala mengenali keluarga dan lingkungan. Ia tetap bisa bermain di luar rumah dengan teman sebaya.

    "Kalau saya main dekat kolam atau sungai, Ibu selalu melarang," kata anak petani tersebut.

    Wacih diperlakukan sama dengan saudara-saudara yang dapat melihat. Sejak kecil ia sudah tertarik membaca. Sebagian besar saudaranya lelaki dan suka membaca
    buku cerita persilatan, Wacih pun turut membaca.

    "Ketika usia saya tujuh tahun, orangtua mendengar cerita tentang sekolah khusus bagi tunanetra di Bina Netra Wyata Guna, Bandung." Jadilah sejak saat itu
    Wacih tinggal terpisah dari keluarga dan tinggal di asrama.

    Tinggal jauh dari keluarga tak masalah baginya sebab setelah bisa membaca dan menulis, ia jadi makin suka membaca buku cerita beraksara braille. "Waktu
    saya kecil, buku cerita braille sangat banyak dan beragam pilihannya," kenangnya sambil menyebutkan salah satu buku favoritnya, Rumah dan Taman.

    Di kelas Wacih pun senang menulis cerita. Guru dan teman-teman senang membaca tulisan dia. Ia melanjutkan belajar di sekolah pendidikan guru di Bandung.
    Di sekolah umum tersebut ia sering diminta mengisi majalah dinding sekolah dan berbagai majalah lokal.

    "Guru saya, Bu Murtilah, menyarankan agar saya kuliah ke jurusan Bahasa Indonesia," cerita Wacih. Saran itu diikutinya. Tahun 1978 ia melanjutkan pendidikan
    ke jenjang sarjana muda di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung yang kini berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia.

    Di perguruan tinggi pun banyak teman Wacih yang menyukai tulisannya. Dosennya memuji kemampuan dia mengungkapkan kesejukan embun di kepala, yang katanya,
    tak mungkin dibuat penulis yang dapat melihat.

    Bertemu di asrama

    Sepanjang hidup, ia menjuarai berbagai perlombaan menulis, antara lain penulisan lokal sastra untuk anak-anak yang diselenggarakan Departemen Pendidikan
    dan Kebudayaan tahun 1983 dan tahun 1986. Karena selalu juara, Wacih sampai tak diizinkan lagi ikut lomba menulis.

    Kini ia lebih banyak menjadi juri lomba penulisan. Beberapa buku tentang cerita anak karya dia telah diterbitkan, antara lain Pahlawan Lima K dan Menuju
    Kemenangan.

    Suaminya, Didi Tarsidi, yang juga tunanetra, mendukung kegemarannya menulis. "Bapak membantu saya mengetik tulisan saya dari huruf braille ke komputer,"
    kata Wacih tentang Didi.

    Wacih bertemu Didi, lelaki asal Sumedang itu, di asrama Bina Netra Wyata Guna. Didi adalah kakak kelasnya. Didi aktif sebagai Ketua Persatuan Tunanetra
    Indonesia (Pertuni). Mereka menikah pada tahun 1980 dan dikaruniai dua anak, Tommy Rinaldi (26) dan Sendy Nugraha (24). Kedua anaknya itu dapat melihat
    dan telah menjadi sarjana. "Mereka yang sering membacakan artikel di majalah atau koran untuk saya," ucap Wacih.

    Prihatin

    Sebagai guru, ia berusaha membagi pengalamannya kepada murid-murid. Ia berharap pengalaman dia bisa menjadi motivasi murid untuk maju. "Setidaknya saya
    ingin mereka bisa seperti saya. Sebab, tunanetra pun bisa melakukan beragam pekerjaan, asalkan diberi kepercayaan mencobanya," katanya meyakinkan.

    Akan tetapi, Wacih mengaku prihatin sebab kemampuan membaca dan menulis huruf braille di kalangan murid-muridnya makin hari semakin rendah. Penyebabnya,
    bacaan beraksara braille sangat jarang dijumpai saat ini.

    "Waktu saya kecil, buku braille banyak jumlah dan ragamnya. Buku anak-anak hingga dewasa tersedia. Tapi sekarang, buku braille makin sedikit diproduksi.
    Kalaupun ada, lebih banyak buku pelajaran sehingga anak tidak dapat memuaskan keinginan membaca buku yang mereka sukai," tutur Wacih.

    Ia berharap pemerintah memerhatikan kebutuhan membaca dan menulis para tunanetra. "Sebab, kemampuan baca tulis itu tergantung banyaknya bahan bacaan yang
    ada," ujarnya.

    Selain itu, ketersediaan kertas untuk menulis pun sering kali sangat terbatas di sekolah-sekolah luar biasa untuk tunanetra. Padahal, kertas bekas dari
    kantor-kantor pun bisa dipakai oleh para tunanetra untuk menulis.

    "Daripada dibuang lebih baik kertas bekas itu diberikan kepada para tunanetra," ucap Wacih yang mengidolakan penulis novel Marga T dan Mira W.

    Wacih berharap semakin banyak anggota masyarakat yang bisa melihat bersedia menolong para tunanetra dengan tak berlebihan. Sebaliknya, para tunanetra pun
    bisa melakukan hal yang sama.

    "Sebab, pada dasarnya semua manusia diberikan kemampuan untuk saling membantu meski dalam keterbatasan," kata Wacih yang memilih mewarnai hidupnya lewat
    tulisan.

    Biodata
    Nama: Wacih Kurnaesih
    Lahir: Sumedang, 30 April 1954
    Orangtua: Haris dan Eneh Hasanah
    Suami: Didi Tarsidi (56)
    Anak: Tommy Rinaldi (sarjana teknik) dan Sendy Nugraha (sarjana ekonomi)
    Pekerjaan: Guru Bahasa Indonesia di SLB A Negeri Bandung
    Pendidikan:
    - Sarjana Bahasa Indonesia dari Universitas Terbuka, 1993
    - Sarjana Muda Bahasa Indonesia dari IKIP Bandung, 1978

    Prestasi antara lain:
    - Juara I penulisan sastra cerita lokal untuk anak, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1983, "Pahlawan Lima K"
    - Juara I penulisan sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1986, "Perjalanan Menuju Kemenangan"
    - Juara se-Asia Pasifik untuk penulisan esai "Manfaat Braille bagi Tunanetra" , Onkyo, Jepang, 2003

    Label:

    Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pendengaran Pertama

    Oleh Witri Suarti, Tabloid Wanita Indonesia, 4 April 2007

    Meski buta, tak menghalangi rasa cinta Wacih Kurnaesih dan Didi Tarsidi, bahkan mereka pun berkar-ya bersama.

    Di ruangan ber-ac di studio METROTV, Wacih Kurnaesih dan Didi Tarsidi nampak serasi dengan busana warna senada.

    Malam itu mereka jadi tamu acara ‘KickAndy’ yang ditayangkan tiap kamis jam 22.30 wib . "Bukankah orang bilang penderitaan dapat membuat orang mengarang?
    Begitu juga aku," kata Wacih Kurnaesih, Sang Juara Lomba The World Blind Union (WBU) Asia Pasifik, dengan hasil karya esainya berjudul: Makna Huruf
    Braile Bagi Tunanetra.

    Sama seperti orang lain, Wacih dan Didi juga memiliki handphone. Namun tentu saja handphone ini khusus bagi tunanetra, yakni dilengkapi software sms yang
    bisa berbunyi untuk membaca sms yang dikirim. Malam itu, pasangan ini jadi pusat perhatian karena hpnya ini.

    Wacih memiliki segudang joke yang menunjukkan sense of humor yang tinggi. Ngobrol dengannya seperti bicara dengan teman lama.

    "Jika di sekolah aku pendiam dan perasa. Tapi kalau di asrama, aduh saya paling heboh menurut teman-teman," katanya. Sebelum taping KickAndy, Wacih
    mengisahkan perjuangan hidupnya bersama Didi, suami tercina.

    Asrama Membuat Mandiri

    Sejak lahir aku tak pernah melihat. Seperti tuna netra lainnya, kami juga ingin melihat indahnya dunia. Namun, kami selalu mensyukuri apa
    yang kami nikmati. Kami bisa mendengar, meraba, mencium. Kami cuma tak bisa melihat.

    Walau tak bisa melihat, sejak kecil aku orang tuaku mengajarkan aku untuk mandiri. Aku mandi, cuci, memakai sepatu dan lain-lain sendiri. Orang
    tuaku memperlakukan aku sama dengan saudaraku yang lainnya. Sejak lahir, ibuku, Enech Hasanah (almarhumah) , selalu membacakan dongeng untukku.

    Mendengarkan dongeng ibuku, satu-satunya hiburanku, masa kecil. Ketidak mampuanku melihat, membuat aku tak bisa menikmati, hal-hal yang bisa
    dinikmati orang lain. Seperti nonton televisi, rekreasi dan lain-lain.

    Ketika, aku berusia 6 tahun, ayahku Haris (almarhum) mengirimku ke Asrama Tunanetra Wiyataguna. Tak kudengar ayah dan ibu menangis melepasku tinggal
    di asrama. Padahal hatiku sedih, gundah dan gelisah. Setelah dewasa, aku baru sadar, kalau apa yang dilakukan orang tuaku, sangat bermanfaat bagiku.
    Di asrama, aku jadi lebih mandiri. Di sini aku belajar masak, menyetrika dan lain-lain.

    Di rumah aku telah diajarkan mandiri, namun aku masih bisa dibantu orang tuaku. Di asrama berbeda, benar-benar aku mandiri. Tak ada lagi tangan-tangan
    yang membantuku. Kalau ada kesulitan, misalnya mencarikan barang, aku harus mencari sendiri. Tempaan hidup di asrama membuat aku kuat.

    Namun yang membuat aku bersedih, aku tak lagi bisa mendengarkan ibuku mendongeng. Tiap-tiap liburan, aku bahagia sekali, tiap malam, tiap akan tidur,
    mendengarkan ibu mendongeng.

    Kelas V SD, guncangan terhebat menghampiriku. Ibu meninggal. Aku tak lagi bisa mendengarkan ibu mendongeng.

    Kepedihan ditinggal ibu, aku tuangkan di buku diary. Berminggu-minggu, isinya hanya tentang kesedihan. Hasilnya, tekanan kepedihan itu berkurang. Lambat
    laun aku bisa melepas kepergian ibu. Sejak itu pula aku terbiasa menautkan kata demi jadi kalimat-kalimat yang indah. Aku suka sekali mengerjakan tugas-tugas
    mengarang di SLB (Sekolah Luar Biasa) Padjajaran, Bandung. Aku selalu mendapatkan nilai terbaik di tugas mengarang. Guru bahasa Indonesia, bangga dan
    sayang padaku.

    Si Raja Duit
    Sejak kecil aku dijuluki: Wacih "Si Raja Duit" karena menciptakan uang-uangan dari kertas dengan tulisan braile sebagai penanda angka nominalnya,
    ha…ha…., karena aku suka menghitung uang, maka itu, begitu aku dewasa, aku terpilih jadi Bendahara Koperasi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).

    Kebiasaan mendengarkan ibu mendongeng inilah yang membuat aku suka sekali menulis diary hingga sekarang. Kebiasaan menulis diary ini pula yang mengantarku
    suka menulis, dan mengikuti berbagai lomba menulis, dan mendapatkan penghargaan internasional.

    Ketika SD dan SMP aku sekolah di SLB. Semua teman-temanku tuna netra. Kami sama-sama menggunakan huruf braille.

    Namun ketika aku melanjutkan pendidikan guru di sekolah umum di SPG 2 Citarum. Di sini pertama kalinya aku sekolah dengan orang normal. Aku mulai
    kesulitan. Buku-buku pelajaran semuanya tak dalam bahasa braille. Tapi, aku tak menyerah. Aku rekam suara guruku saat mengajar di kelas. Teman-temanku
    baik semua, mereka mau membacakan buku-buku pelacaran itu, dan aku merekamnya. Saat pulang sekolah aku terus menerus mendengarkan kaset-kaset itu.

    Walau tuna netra, aku punya semangat jadi yang terbaik di kelas. Aku selalu jadi juara kelas, paling tidak juara ke II. Lulus, aku mengajar pelajaran
    Bahasa Indonesia di SLB A Padjajaran Bandung.

    Sambil kerja, aku meneruskan kuliah di IKIP (kini UPI) Bandung untuk mendapatkan gelar sarjana muda (1978). Aku dites langsung oleh Ketua Jurusan
    Bahasa Indonesia IKIP, dengan 100 soal secara lisan. Di IKIP teman buleku, Helen Bloomfield, baik sekali denganku. Mungkin karena aku tunanetra. Tampa
    aku minta tolong, dia bersedia membaca buku-buku pelajaranku.

    Aku merasa berhutang budi pada Helen. Dia yang mengajarkan aku trik membaca buku pelajaran. Kata dia tak perlu baca seluruhnya, inti-intinya saja yang
    pasti keluar kalau ujian. Ia benar.

    Namun, karena ajaran Helen, aku hanya membaca 2 buku dari 12 buku wajib yang dianjurkan harus dibaca oleh dosennya. Karena tak ada bacaan berhuruf braile,
    tentu saja aku mengandalkan bantuan teman-teman untuk membacakan buku. Sebuah buku saja berhalaman ratusan. Jadi sudah cukup dibacakan 2 buku saja. Keterbatasannya
    tak menjadikan halangannya untuk menjadi mahasiswa berprestasi.

    Di kampus aku belajar bahasa Jawa, Kawi dan Sansekerta. Alhamdulillah aku bisa Bahasa Jawa dengan baik. Cuma yang jadi kendala saat itu bagaimana kelak
    saya menghadapi pelajaran bahasa Kawi dan Sansekerta? Kalau bahasa Arab ada bacaan braillenya, yang dua itu tidak. Untung aku ada akal, ketika kuliah
    aku dengarkan baik-baik kata demi kata, lalu aku tirukan saja sebisa-bisanya. Alhamdullilah aku lulus.

    Gelar Sarjana Pendidikan aku peroleh di Universitas Terbuka (UT). Ketika kuliah di UT, karena tidak banyak tatap muka, aku sering ketiduran kalau
    mendengarkan materi pelajaran dari kaset ha..ha..ha.

    Bertemu Kekasih

    Saat aku masih duduk di bangku SPG, ada lelaki yang menarik perhatianku. Namanya Didi Tarsidi, dia sama-sama tunanetra, dan kuliah di IKIP. Waktu itu,
    dia baru masuk asrama kami. Saat mengenalkan diri pada anak-anak asrama itulah aku jatuh cinta pada suaranya. Ternyata, begitu juga dengan Didi. Jika
    manusia normal, mungkin kami jatuh cinta pada pandangan pertama.

    Setelah Didi bekerja, jadi dosen di IKIP. Kemudian ia membeli rumah di Jalan H.Kurdi Baru II No. 17 Bandung, dari tabungan dan meminjam uang.
    Tak berapa lama kemudian kami menikah tahun 1980. Ah bahagianya aku, apalagi kemudian lahir Tommi Rinaldi tahun 1981. Ia lahir normal. Bagi kami
    ini semua anugerah yang tak terkira. Terima kasih Tuhan, kami berdua tunanetra, namun Kau karuniai kami anak yang normal.

    Aku sendiri yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dari masak, mencuci, menyetrika, dan mengurus Tommi. Didi juga membantuku mengurus rumah.
    Dia sendiri yang membetulkan genteng bocor, langit-langit yang bermasalah, atau bagian rumah yang rusak lainnya. Didi juga senang menyuapi Tommi, mengganti
    popoknya. Suamiku mengenal dengan baik setiap sudut rumah

    Inilah keluarga kami, kami berusaha mengerjakan sendiri. Mungkin bagi orang normal tak terbayangkan, tunanetra seperti kami bisa mengerjakan
    Seluruh pekerjaan ini. Yang terpenting bagi kami, adalah kemauan. Seperti memasak. Asalkan kita mau memasak dan tak takut api. Memasak itu gampang kok. Untuk
    merasakan tahu goreng sudah saatnya di balik, selain dari harumnya tahu yang sudah matang, aku bisa merasakan kulit tahu yang mengeras di ujung sendok
    pembalik.

    Lihat saja rumah kami ini, terlihat rapi kan? Ha …ha… padahal aku tak bisa lihat loh. Tapi aku bisa merasakan, kalau rumahku kotor, bau dan tak
    rapi, dari tangan dan penciumanku.

    Label: ,

    Didi Tarsidi: Harus Menunggu ”Orang Normal” Terurus Dulu?

    Oleh agus rakasiwi, Pikiran Rakyat, 21 September 2006

    HARI Minggu di tahun 1982, adalah momen lucu sekaligus membuatnya miris bagi Didi Tarsidi (55). Waktu itu, ia sedang menunggu bus kota yang akan membawanya
    kembali ke rumah di kawasan Mohammad Toha. Selagi menunggu, tiba-tiba seorang kernet angkutan umum memasukkan beberapa receh ke saku bajunya, “Pa punten,
    ieu kanggo meser rokok (maaf pak, ini buat beli rokok),” kata kernet jurusan Cicaheum itu.

    Minggu depannya, di tempat yang sama, lagi-lagi kernet yang sama melakukannya lagi. Kejadian kedua itu membuat emosinya terpancing. Didi langsung membuang
    uang pemberian kernet itu ke jalan. “Saya mengira ia orang yang sama. Kali ini ia tidak lagi basa-basi,” kata Didi. “Saya benar-benar kesal saat itu. Saya
    sangat emosi.”

    Sebelumnya pula, saat Didi sedang menelusuri jalan rusak di Bukit Duri, Ciumbuleuit, ia sempat diteriaki orang gila oleh sekelompok anak kecil. Pasalnya,
    Didi yang berjalan sendirian dengan memakai tongkat dan kaca mata hitam, jalan terantuk-antuk untuk menghindari jalan yang rusak.

    “Persepsi anak-anak tentang orang gila saat itu, mungkin adalah orang yang memakai kacamata hitam, membawa tas besar, dan berjalan terantuk-antuk seperti
    orang linglung,” ujarnya.

    Jika saja kernet dan anak-anak itu tahu kalau Didi adalah seorang dosen sekaligus mahasiswa S3, tentu saja situasinya akan berbeda.

    Didi mengatakan, peristiwa itu terjadi karena dalam benak masyarakat telah terbentuk persepsi bahwa tunanetra adalah kaum yang harus dikasihani. Tunanetra
    dianggap “berbeda” dari orang-orang di sekitarnya. “Kenapa harus disebut berbeda. Bukankah kita sama hanya saja ada perbedaan fisik saja,” kata bapak dua
    anak ini tegar.

    **

    PEMERINTAH Indonesia sudah sejak lama menetapkan peraturan perundang-undangan menyangkut keberadaan penyandang cacat. Dalam UU tersebut ditegaskan bahwa
    para penyandang cacat, seperti tunanetra, haruslah diperlakukan sama dengan mereka yang normal. Dalam setiap lini kehidupan, penyandang cacat tetap harus
    mendapat pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak bagi mereka.

    Namun, pada pelaksanaan riil di lapangan, keberadaan mereka masih saja dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Misalnya, dalam hal pekerjaan. Undang-undang
    mencantumkan klausul bahwa penyandang cacat berhak memperoleh pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan derajat kecacatannya. Klausul itu menyebabkan pemberi
    pekerjaan bebas memberi penilaian terhadap kondisi fisik pelamar tanpa mempertimbangkan potensi keterampilan yang dimilikinya.

    “Bagaimana bisa mereka memberi penilaian terhadap diri tunanetra, sementara tidak pernah diminta untuk menunjukkan bakat dan keterampilan yang kami miliki,”
    ujar Didi.

    Perlakuan seperti itu, berbuah banyaknya tunanetra yang akhirnya memilih hidup di jalan sebagai pengemis. Lambat-laun persepsi di masyarakat pun berkembang
    bahwa para tunanetra adalah kelompok yang harus dikasihani agar hidupnya tetap bertahan.

    Didi meyakini bahwa persepsi tersebut bisa dipatahkan dengan cara memberikan asupan pendidikan yang memadai bagi kaum tunanetra.

    “Orang tunanetra sebenarnya bisa bekerja menjadi apapun jika diberikan technology assist yang tepat,” kata mahasiswa S3 UPI bidang kajian konseling ini.

    Dalam dunia pendidikan, asupan teknologi yang bermanfaat bagi tunanetra sudah lama berkembang. Ada software computer bicara yang disebut “George”. Alat
    ini setidaknya dapat membantu tunanetra untuk mengakses bahan bahan bacaan yang ada di internet atau yang tersimpan di daftar arsip komputer.

    Namun, Indonesia termasuk pihak yang telat mengadopsi teknologi itu. “Pemerintah selalu bilang, boro-boro urus orang cacat, kalau orang normal saja belum
    terurus semua. Lalu, apakah kami harus menunggu orang normal dulu terurus. Sepertinya itu, tidak mungkin,” kata Didi

    Berdasarkan pendapat itulah, Didi lalu memelopori pembukaan Pusat Layanan Tunanetra di UPI. Lembaga itu adalah yang pertama di Indonesia. Kenapa di UPI?
    Karena universitas itu adalah satu-satunya kampus negeri di Bandung, Jawa Barat, yang sudah menerima mahasiswa tunanetra sejak 1960-an. Saat ini terdapat
    45 mahasiswa tunanetra yang menempuh jalur sarjana.

    **

    PADA 14 September lalu pusat layanan ini resmi digunakan oleh para mahasiswa tunanetra di UPI. Di tempat ini mereka akan mendapatkan aneka ragam fasilitas,
    seperti internet sampai meminta bukunya disalin ke huruf braile atau dipindahkan ke media elektronik seperti kaset. Dan, bagi para mahasiswa tunanetra
    yang baru menginjakkan kakinya di UPI bisa meminta untuk diantar berkeliling kampus.

    Kampus, baru pada Senin (18/9) menyambangi pusat layanan tersebut. Saat bertemu dengan Didi Tarsidi di dalam laboratorium Pendidikan Luar Biasa Fakutas
    Ilmu Pendidikan UPI, pintu masuk ke ruangan pusat layanan masih terkunci rapat.

    “Waduh, kok masih terkunci. Ya... seharusnya sudah buka. Jam kerja tempat ini kan sejak pukul delapan sampai jam empat sore,” ujar Didi, yang melihat jam
    sudah hampir pukul sepuluh pagi.

    Meskipun begitu, Didi dan Kampus masih bicara beberapa hal mengenai tujuan pendirian pusat layanan mahasiswa tunanetra ini. Berikut petikan wawancaranya

    Betulkah pemerintah kita belum pernah mendirikan pusat layanan seperti ini?

    Ya. Pemerintah kita masih banyak bicara di atas kertas dan belum mengimplementasikan apapun amanat UU tentang Penyandang Cacat.

    Dengan siapa Anda bekerja sama untuk mendirikan tempat ini?

    Tempat ini berdiri atas kerja sama lembaga nirlaba ICEVI dan Nippon Foundation. ICEVI adalah lembaga yang mengurusi masalah penyandang cacat tingkat Asia
    Pasifik. Karena visinya sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), di mana saya duduk sebagai wakil ketuanya. Karena kesamaan visi itu maka dijalinlah
    kerja sama. Sementara Nippon Foundation adalah lembaga donor yang sudah lama bekerja sama dengan UPI.

    Awalnya, ICEVI tertarik dengan pemaparan saya tentang kondisi mahasiswa tunanetra di Indonesia. Waktu itu, kebetulan saya diundang sebagai pembicara dalam
    konferensi internasional tahun 2004 tentang pendidikan tinggi untuk mahasiswa cacat.

    Apakah yang Anda paparkan kepada mereka?

    Saya memaparkan bahwa mahasiswa tunanetra di Indonesia haruslah bekerja keras untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Di Indonesia tidak ada pusat layanan
    yang dapat membantu kerja mahasiswa. Kasihan bukan mahasiswa yang setiap waktu luangnya dihabiskan untuk mengejar ketertinggalan. Karena memang tidak ada
    buku dalam huruf braile untuk mahasiswa, tidak ada akses computer bicara dan lain-lain. Nah, dengan adanya layanan ini, mereka yang berkuliah tidak lagi
    kesulitan seperti pada zaman saya berkuliah dulu. Duh, repotnya. Sebenarnya saya yakin, dengan orang berpendidikan tinggi, maka citra negatif masyarakat
    bisa dikurangi.

    Apakah kalimat Anda terakhir benar adanya. Kenapa Anda yakin pendidikan tinggi bisa mengubah perspektif masyarakat?

    Ya, tentu saja. Sekarang yang terlihat kan adalah mereka yang sering berada di jalan. Sementara yang bersekolah dan mencapai karir yang baik karena sekolahnya
    tidak pernah terekspos. Misalnya, di tingkat nasional orang mengenal Bambang Basuki. Dia adalah sarjana tunanetra.

    Kenapa Anda begitu optimis. Sementara kita tahu pemerintah masih diskriminatif terhadap kaum tunanetra dalam bidang pekerjaan?

    Gini, Mas, kita harus optimis. Mustahil perubahan terjadi kalau kita pesimis. Bukankan kita hidup pada dunia yang sama, sehingga harusnya kita dapat kesempatan
    yang sama pula.

    Dari mana pembiayaan tempat ini?

    UPI menyediakan ruangan dan akses internet. Sementara untuk peralatan semuanya disediakan oleh ICEVI dan Nippon Foundation. Tersedia dana US$ 70 ribu untuk
    macam-macam kebutuhan.***

    Label:

    Blind is only a Character

    Oleh Aulia Ardiansyah,
  • blogspot.com


  • Blind is only a character. Sama seperti karakter lain yang ada pada diri kita. Ada orang yang tercipta pendek dan ada juga yang tinggi. Begitulah sepetik
    kalimat yang saya dengarkan sembari tetap menjaga waktu di sebuah seminar yang diadakan oleh lab saya. Kalimat yang dilontarkan oleh seorang pemakalah
    yang kebetulan seoarang tuna netra. Beliau mengoperasikan sendiri sebuah laptop dibantu dengan sebuah software. Pak Didi Tarsidi namanya, seorang dosen
    UPI. Menurut beliau juga dunia IT tidak pernah mendiskriminasi.

    Sering kali kita terpaku dalam kekurangan yang kita miliki. Jikalau kekurangan tersebut kita sikapi dengan proses perbaikan diri, rasanya malah lebih baik.
    Tetapi jika kita menggunakan kekurangan kita sebagai tameng untuk enggan melakukan sesuatu, itulah yang menjadi masalah. Bisa saja Pak Didi menggunakan
    ketunanetraannya sebagai alat untuk mencari belas kasihan orang lain. Tetapi beliau memilih untuk berjuang bahkan pernah keliling keluar negeri. Sungguh
    semangat yang luar biasa.

    Don't judge a book by its cover. Kita sering memandang dunia dengan mata fisik. Padahal banyak sekali makna yang terkandung di balik apa-apa yang kita
    lihat. Sudah banyak saya kira perihal yang menyangkut hal ini. Kembali lagi ke pernyataan Pak Didi bahwa dunia IT tidak pernah mendiskriminasi. Kita tidak
    tahu orang seperti apa yang sedang berbalas e-mail dengan kita, kita tidak tahu apakah orang yang sedang di depan komputer seberang mempunyai kepala (ini
    juga satu lelucon yang disampaikan Pak Didi). Kita hanya tahu pikiran-pikiran lewat tulisan yang digoreskan oleh lawan bicara kita di dunia seberang.

    Rasanya malu, seorang manusia seperti Pak Didi mempunyai semangat yang begitu besar padahal mempunyai kekurangan pada hal fisik. Menjadi renungan saya
    juga, seharusnya saya juga bisa bersemangat seperti beliau.

    Label:

    Didi Tarsidi: Menjadi Tuna Netra Bukan Halangan

    Oleh Aan Satriani & Arie Lukihardianti, Republika Online, 24 Juli 2005

    Di banyak negara maju dan beberapa negara ASEAN, para penyandang cacat mendapat tunjangan life allowance untuk membantu mereka mandiri sebagai anggota
    masyarakat, mendapatkan kesempatan kerja yang setara, dan menjalani kehidupan yang lebih tertata.

    Di Indonesia, kondisinya justru terbalik. Kesempatan kerja yang sempit serta persepsi keliru yang berkembang di masyarakat membuat para tuna netra selalu
    menjadi 'warga kelas dua'.

    Selama 30 tahun terakhir, menurut Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Drs Didi Tarsidi, M Pd, pemahaman masyarakat Indonesia pada para tuna netra
    cenderung tak mengalami perubahan berarti. ''Dari sisi jumlah memang meningkat, tapi dari sisi persentase tetap karena jumlah penduduk juga kan meningkat,''
    paparnya. Meski demikian, ia tak lelah untuk mensosialisasikan sekaligus mengampanyekan keberadaan dan kehidupan para tuna netra yang sesungguhnya tak
    jauh berbeda dengan anggota masyarakat lain yang berpenglihatan normal.

    Kepada wartawan Republika, Arba'iyah Satriani, Arie Lukihardianti dan fotografer Yogi Ardhi Cahyadi, Didi menjelaskan mengenai pentingnya perubahan persepsi
    masyarakat Indonesia terhadap para tuna netra, perlunya UU No 4/1997 diamandemen serta keinginannya untuk menulis buku-buku untuk para tuna netra. Berikut
    petikannya.

    Bagaimana pandangan Anda terhadap dunia pertunanetraan sekarang ini?
    Saya ingin membandingkannya dengan 20 atau 30 tahun yang lalu, ketika saya masih mahasiswa. Ada beberapa hal yang sangat berbeda, tapi ada beberapa hal
    yang sama. Kita lihat yang samanya dulu, pemahamannya masyarakat tentang ketunanetraan itu tampaknya masih ... prototipe ya. Saya tidak bicara tentang
    individu yang sudah kenal betul dengan individu tuna netra ya, tapi secara umum. Kebanyakan orang memandang tuna netra sebagai suatu ketidakberdayaan,
    ketidakmampuan, dan seterusnyalah, dan mereka identikkan kehilangan penglihatan itu dengan kehilangan segala-galanya. Memang, di satu sisi orang pernah
    mungkin, membaca atau menyaksikan sendiri, tuna netra yang punya pencapaian biasa-biasa saja tapi mereka menganggap sebagai luar biasa.

    Maksudnya bagaimana?
    Misalnya, menyaksikan orang tuna netra bisa mengupas mangga sendiri, itu dinilai luar biasa. Atau mengetik sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka melihat
    itu hal yang aneh. Apalagi melihat orang tuna netra dapat melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan dengan penglihatan. Meski begitu, masyarakat melihat
    hal seperti itu sebagai suatu kekecualian. Jadi, masyarakat tetap mempunyai persepsi bahwa tuna netra pada umumnya tidak begitu. Mereka, misalnya, lebih
    jauh punya informasi bahwa tuna netra bisa mengoperasikan komputer, tapi tetap persepsi mereka tentang tuna netra tidak berdaya, kecuali yang ini.

    Jadi, kebanyakan masyarakat belum memandang orang tuna netra sebagai manusia utuh?
    Betul. Mereka tidak bisa menggeneralisasikan bahwa semua orang tuna netra itu tidak mempunyai potensi yang bisa dikembangkan. Jika ada satu orang tuna
    netra berkemampuan sama seperti orang awas, mereka tetap memandang orang tuna netra yang ini berbeda, tetapi pada umumnya orang tuna netra ya tidak berdaya.

    Jadi, sudut pandangnya terbalik dengan melihat orang-orang yang awas?
    Ya, betul. Kalau mereka melihat sesuatu yang biasa, mereka melihat ini sebagai suatu pengecualian, tapi ketika mereka melihat suatu yang tidak bisa dilakukan
    oleh tuna netra, mereka menggeneralisasinya pada semua orang tuna netra. Padahal, saya selalu mengatakan bahwa tuna netra adalah individu yang punya berbagai
    kemungkinan sebagaimana individu lainnya. Semua tuna netra mempunyai kemungkinan yang sangat besar.

    Kalau begitu, kondisi 20 tahun yang lalu dengan sekarang ini relatif tidak ada perbedaan yang signifikan?
    Ya, mungkin dari jumlah orang yang mempunyai persepsi yang tepat, jumlahnya bertambah. Tapi, persentasenya tidak karena pertambahan jumlah penduduk.

    Sebagai vice president World Blind Asia Pasific, bagaimana Anda membandingkan situasi di Indonesia dengan negara-negara di Asia Pasifik?
    Kalau dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, kita berada di bawah dalam hal-hal tertentu. Soal kesempatan pendidikan, Malaysia lebih baik.
    Meskipun secara jumlah Indonesia unggul, tapi persentase kecil. Mungkin penduduk Malaysia lebih sedikit. Mengenai kesejahteraan, Malaysia, Thailand, Singapura
    punya undang-undang yang mengatakan semua penyandang cacat termasuk tuna netra berhak memperoleh life allowance (tunjangan kecacatan). Lalu, mungkin orang
    bertanya, kenapa harus ada tunjangan kecacatan padahal ingin disamakan dengan orang normal? Nah, tunjangan kecacatan ini diberikan untuk memungkinkan penyandang
    cacat mencapai kemandirian sehingga mencapai kebersamaan.

    Misalnya seperti apa?
    Contohnya, saat menggunakan komputer, orang awas bisa langsung menggunakannya sementara orang cacat harus menambah software yang mahal harganya. Begitu
    juga, untuk pergi ke daerah yang belum dikenal, penyandang cacat membutuhkan pendamping. Jadi, penyandang cacat itu membutuhkan dana yang banyak untuk
    bisa hidup mandiri demi mencapai tadi. Prinsip ini yang digunakan di banyak negara. Tapi, dibandingkan Myanmar, Kamboja, kita masih di atas. Jadi, ada
    di tengah-tengah.

    Bagaimana dengan undang-undang untuk tuna netra?
    Kita mempunyai undang-undang untuk penyandang cacat, yaitu Undang-Undang No 4/1997. Tapi, banyak hal di dalamnya yang memerlukan revisi amandemen. Misalnya,
    dalam banyak pasal dikatakan penyandang cacat harus mendapatkan kesamaan pekerjaan, sesuai dengan jenis derajat kecacatan dan kemampuannya. Awal kata pasal
    itu bagus, tapi ujungnya jelek, sesuai jenis derajat kecacatan dan kemampuannya. Jeleknya kenapa? Karena pemahaman orang bervariasi dan kurang untuk kemampuan
    penyandang cacat. Ketika kita mengatakan penyandang cacat harus diberi pendidikan yang sama sesuai kemampuannya. Siapa yang akan menilai kemampuan? Jadi,
    saya kira klausul itu tidak perlu.

    Persentase tuna netra yang terdidik dan tidak di Indonesia berapa banyak saat ini?
    Berdasarkan data, kurang dari 10 persen anak penyandang cacat berusia sekolah memiliki pendidikan formal. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman orang
    tua dan masyarakat sekitarnya bahwa kesempatan itu ada. Orang tua terlalu sayang dan takut kalau anaknya jauh. Ada juga orang tua yang malu dan mengurusnya
    di rumah.

    Bagaimana penerapan sekolah inklusi saat ini?
    Inklusi memberikan kesempatan penyandang cacat pada sekolah umum dan memberikan dukungan. Sekolah dipersiapkan menjadi mudah diakses bagi penyandang cacat.
    Kalau inklusi dilaksanakan jadi sekolah yang ideal.

    Kehilangan penglihatan sejak usia lima tahun, karena sakit infeksi yang dideritanya, tidak membuat pria kelahiran Sumedang pada 1 Juni 1951 ini merasa
    Berbeda dengan orang lain yang punya penglihatan normal. Saat dirinya tak bisa melihat lagi, seluruh anggota keluarga tetap mendukungnya. ''Kakak saya masih tetap
    mengajak saya jalan-jalan atau pergi ke kolam pemancingan ikan. Saya pun tetap bermain dengan teman-teman di kampung,'' kata anak ketiga dari lima bersaudara
    ini mengenang orang tuanya yang bekerja sebagai petani pun tak pernah membeda-bedakan perlakuan.

    Tak heran jika kemudian penggemar musik jazz ini tak pernah berpikir atau berandai-andai untuk bisa melihat. Didi memang tak pernah merasa ketiadaan penglihatannya
    sebagai halangan. Terbukti, dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UPI ini bisa menyelesaikan pendidikan S1 (Pendidikan Bahasa
    & Sastra Inggris, IKIP Bandung, 1979) dan S2 (Bimbingan dan Penyuluhan Konsentrasi Bimbingan Anak Khusus, UPI, 2002) dengan lancar. Sejak duduk di bangku
    kuliah, Didi yang akan memulai kuliah program doktornya pada Agustus 2005 ini sudah bekerja sebagai penerjemah dengan penghasilan yang lumayan. Murid-muridnya
    adalah para ekspatriat yang ingin belajar bahasa Indonesia secara privat.

    Langkah-langkah apa yang sudah dilakukan Pertuni selama ini?
    Pertuni mempunyai banyak sekali program yang dirumuskan oleh suatu forum besar yang mengakumulasi berbagai macam ide. Tapi, ada satu yang bisa diprioritaskan
    untuk mengakomodasi program-program pada umumnya, yaitu kampanye kesadaran pada masyarakat dengan berbagai cara.

    Seperti apa bentuk kampanye itu?
    Bisa dilakukan dalam bentuk formal atau bentuk tidak formal. Yang formal misalnya mengadakan lokakarya, seminar, dan sebagainya. Yang tidak formal melalui
    individu-individu yang harus menunjukkan kemampuannya di tengah-tengah masyarakat. Saya selalu mengatakan, (kepada orang-orang tuna netra, red) kita harus
    selalu berada di tengah-tengah masyarakat karena masyarakat tidak tahu persis siapa tuna netra. Ini dikarenakan di jalan-jalan, yang mereka lihat adalah
    orang-orang tuna netra yang meminta-minta dan seterusnya. Sementara, orang-orang yang memiliki kemampuan berada di balik tembok. Untuk menyeimbangkan informasi
    di masyarakat, kita harus keluar atau mengajak mereka masuk ke dalam.

    Sebagai kepala rumah tangga, Didi pun akan memperbaiki genteng rumah yang bocor atau langit-langit rumah yang bermasalah, ketika anak-anaknya masih kecil.
    ''Saya mengenal dengan baik setiap sudut rumah saya. Sebelum saya punya banyak kesibukan dan anak-anak masih kecil, saya kerap mengerjakan pekerjaan rumah,''
    katanya. Waktu luang yang dimilikinya digunakan untuk berbagi dengan istrinya. Kadang, Didi mendengarkan cerita yang dibacakan istrinya. Kali lain, pria
    yang sangat gemar mengutak-atik komputer ini yang membacakan kisah yang diperolehnya di internet kepada istrinya. ''Kalau tidak, kami pergi ke luar rumah
    untuk makan atau berkunjung ke rumah teman,'' katanya.

    Anda punya hobi mengutak-atik komputer, bisa diceritakan?
    Hobi saya ini bermula dari membaca informasi dari negara maju. Karena saya bisa lebih mudah mendapatkan publikasi gratis dari majalah luar negeri dibandingkan
    dalam negeri dalam huruf braile. Saya dapat kiriman dari Amerika, Inggris, dan beberapa negara lain. Saya baca banyak hal tentang teknologi itu. Lalu saya
    membaca ada kursus tertulis yang diselenggarakan oleh Belanda dan Amerika tentang macam-macam topik, salah satunya komputer. Saya menulis surat pada sekolah
    itu dan mereka memberikan bacaan dalam bentuk braile. Saya juga memberikan jawaban soal-soal tes dengan mesin tik biasa dan dikirimkan lewat pos.

    Selanjutnya?
    Saya mengambil kursus berjudulnya Introduction to My Computer pada awal tahun 1990-an. Kursus ini menawarkan lebih dari 100 macam. Saya ambil beberapa
    termasuk komputer, word processing. Pengenalan saya terhadap komputer baru sampai pada pengetahuan. Karena saya hanya membaca, belum pernah memegang sama
    sekali. Pertama kali saya meraba komputer itu ketika saya mengikuti seminar di Kuala Lumpur tahun 1994, yaitu saat seminar tentang teknologi komputer bagi
    tuna netra se-ASEAN. Saya memiliki komputer tahun 1998 ketika istri saya memiliki uang banyak. Jadi, istri saya menulis buku dibeli pemerintah untuk program
    inpres dan kami sepakat untuk membeli komputer dari hasil tersebut.

    Anda sering ke luar negeri sendirian ya?
    Saya ke luar negeri karena dikirim oleh Pertuni atau UPI. Hanya satu kali yang diundang secara pribadi dan disediakan ongkos untuk pendamping. Tapi, pada
    umumnya saya ke luar negeri dibiayai oleh dinas karena keterbatasan dana. Menurut saya, bepergian sendiri dengan naik pesawat itu jauh lebih mudah bila
    dibandingkan dengan bis.

    Kok bisa?
    Karena di pesawat ada perhatian khusus pada penyandang cacat. Ini saya bicara soal aturan penerbangan internasional. Misalnya, pada saat ke Kanada. Saya
    datang ke bandara, petugas Garuda Indonesia langsung mendatangi saya, membawa ke ruang tunggu, ke pesawat, dan disambut pramugari di pesawat. Ketika sampai
    ke tempat tujuan, saya dibawa oleh pramugari turun dan ada yang menyambut lagi. Jadi ada komunikasi. Bahkan, mereka menawarkan kursi roda. Saya bilang
    saya hanya tidak bisa melihat, tapi bisa jalan. Kemudian, saat ada peragaan penggunaan pelampung dan keselamatan, pramugari memeragakan secara individual
    dengan mendatangi saya.

    Menikah dengan gadis pujaannya, Wacih Kurnaesih, S Pd pada 1980, wajah Didi tampak berbinar mengenang saat pernikahan mereka. ''Saya membeli rumah tiga
    bulan sebelum menikah dengan uang tabungan yang saya miliki ditambah dengan uang pinjaman. Jadi, kami menikah di rumah sendiri,'' ujarnya. Wacih adalah
    adik kelasnya sekaligus tetangga kamar di asrama Wyata Guna Bandung --tempat Didi tinggal selama menempuh pendidikan S1. Buah hati pertama lahir pada 1981
    dengan nama Tommi Rinaldi. Kini, Tommi duduk di bangku akhir kuliahnya di Jurusan Geologi Unpad. Sedangkan adiknya, Sendy Nugraha, yang lahir pada 1983
    saat ini menjadi mahasiswa semester 8 Jurusan Akuntansi di Unpas Bandung. Mendidik anak-anaknya yang lahir normal, Didi dan Wacih berlaku seperti umumnya
    para orang tua lain. ''Saya bahkan senang menyuapi anak saya, mengganti popok mereka,'' katanya tersenyum. Kedua anaknya mengenal ketunanetraan orang tua
    mereka secara alami karena setiap hari selalu berinteraksi.

    Mengenai motivasi Anda sehingga bisa mencapai posisi seperti sekarang, menjadi lektor dan akan segera kuliah S3, bagaimana awalnya?
    Ketunanetraan itu menjadi bagian dari hidup saya. Ketika saya menjalani kehidupan ini, ketunanetraan itu tidak menjadi bagian dari pemikiran saya. Yang
    menjadi pemikiran saya adalah bagaimana bisa sukses dalam hal tertentu. Misalnya, bagaimana saya bisa menyelesaikan S2, bagaimana saya ingin jadi doktor
    dan seterusnya. Jadi, tidak pernah terlintas, ''coba saya melihat''. Artinya, motivasi saya adalah motivasi untuk bisa lebih maju lebih jauh di dalam kehidupan
    saya. Sejak kecil, saya ingin menjadi guru dan cita-cita sudah tercapai.

    Obsesi saat ini apa?
    Secara pribadi, saya ingin menyelesaikan studi saya yang paling akhir yaitu mendapatkan gelar doktor itu, dalam karier saya ingin supaya jadi profesor.
    Tapi saya pikir, itu keinginan yang dimiliki oleh semua dosen. Ya, dengan keluarga, saya ingin anak-anak saya berhasil mempunyai pekerjaan yang mapan.
    Dalam organisasi, sesungguhnya organisasi tidak menjadi bagian dari cita-cita saya karena saya tidak pernah punya keinginan untuk menjadi ketua umum Pertuni.
    Karena itu kan pekerjaan volunteer, sosial dan jadi ketua umum ini karena memenuhi keinginan banyak teman. Artinya, ketika masa jabatan saya berakhir,
    saya lebih senang kalau tidak menjabat lagi agar memiliki banyak waktu luang. Sebenarnya obsesi saya menulis. Saya ingin mempunyai banyak waktu untuk menulis
    buku.

    Buku yang ingin ditulis?
    Sekarang saya punya banyak draft. Karena banyak, maka semuanya tidak selesai karena tidak punya waktu.

    Salah satunya apa?
    Karena saya suka komputer dan saya mengajar komputer, saya sekarang sedang membuat buku pelatihan komputer untuk tuna netra. Selain itu, karena saya merasa
    bahwa banyak orang tidak memahami ketunanetraan secara tepat dan buku-buku tentang ketunanetraan yang ada di Indonesia tidak saya sukai, saya sekarang
    mencoba menulis buku tentang ketunanetraan. Agar masyarakat punya persepsi yang tepat tentang ketunanetraan. Tapi, ini masih berupa draft awal.

    Label:

    Wacih, a world-class braille writer

    By Yuli Tri Suwarni, The Jakarta Post, 4/5/2005

    Being born blind has posed no barrier to Wacih Kurnaesih, 50, in building her career as a world-class writer.

    The teacher at Wyata Guna state special school (SLB) for the blind in Bandung discovered the joys of story writing as a hobby, eventually earning her first
    place for the Onkyo Braille Essay Award II in 2004.

    Through her essay, entitled Achieving success with Braille, Wacih was awarded a US$1,000 prize by the sponsors, Onkyo Co. Ltd., The Braille Mainichi newspaper,
    and the World Blind Union -Asia Pacific.

    "What I wrote was just my personal experience in using braille to make my life easier and to channel my interests," she said humbly.

    She claimed to have finished the 900-word essay in only seven hours. "As it was already in my head, I just turned it into words. I started at 11 a.m. and
    finished it at 6 p.m., including breaks for two meals and prayers," she told The Jakarta Post.

    As suggested by the title, Wacih wished to convey that the pursuit of progress in life was no different for the blind, despite their disability.

    The writing and printing system invented by blind French educator Louis Braille in 1824 has been the key to her success. This Indonesian language high
    School teacher has not been chasing money or wealth, however. With her success, she wants to reduce her dependence on other people and express her ideas and feelings
    in braille so as to be a benefit to society.

    Wacih was introduced to braille at the age of seven, when she was sent from her birthplace in Sumedang to the Wyata Guna Blind Institution in Bandung,
    About 50 kilometers away. Born on April 30, 1954, she mastered braille quickly, mainly due to curiosity.

    "My mom used to tell me bedtime stories, which I liked a lot. So I wanted to read the tales in braille," said Wacih, who enjoys reading a wide variety
    Of different novels and was thus inspired to write stories of her own.

    Braille also made Wacih more confident as a child when playing with her sighted friends during holidays in Sumedang. She would make braille "banknotes"
    with ordinary paper, which her peers liked very much. "They might have found it strange playing with 'money' with embossed dots," recalled the mother of
    two sighted children, Tommy Rinaldi, 23, and Sendy Nugraha, 21.

    As a teenager, she started writing short stories and poems in braille. The themes were still woven around the tales her mother used to tell, about lucky
    children and wealthy, happy kings as well as moral fables.

    Later, she became fond of reading romantic novels of such famous writers of the 1970s like Marga T and Ashadi Siregar, which at that time she enjoyed through
    the assistance of volunteers who visited the Wyata Guna school to read to her.

    It was also braille that led to Wacih's success in her entrance test to enroll at the state teacher training school (SPG) in Bandung, which receives mostly
    sighted students.

    But her most memorable moment was not her admission to SPG.

    Rather, it was when, in her second year of study around 1972, one of her stories was published in the Suara Karya daily newspaper.

    Wacih said that her first published story, titled "Gara-gara rambut palsu" (All because of a wig), was introduced as the work of a blind student. It was
    about a girl wearing a wig that gets caught on something as she was taking a walk with her boyfriend, making her feel embarrassed.

    "I got Rp 3,000 for my first story, which was quite a lot, because the school fees then were only Rp 100 a month. I spent the remaining money on treating
    my friends," she reminisces with a smile.

    Her writing skills enabled her to take her study further after graduating, enrolling at the Indonesian Department of Bandung's pedagogic institute (now
    the Indonesian Pedagogic University).

    Publication of her work boosted her confidence in associating with the 50 other students in her department.

    Students there acknowledged her flair for literature by asking her to help them write poetry for their boyfriends. "As a reward, they used to treat me
    To a bowl of meatballs," she said.

    Feeling that her writing had to be read by sighted people, she began learning how to use a manual typewriter. Her ability to type eventually caused her
    poems and stories to appear more frequently in the department's magazine.

    In 1980, Wacih married her Wyata Guna boyfriend, Didi Tarsidi, who was also born blind. She uses braille for facilitating household routines. "I use braille
    paper for kitchen spices to avoid mistakes, and also for documentation of diplomas, awards and civil servant promotion decrees so that I don't have to
    ask anybody to find them whenever I need them," she said.

    In a writing contest for special school principals throughout Indonesia in 1983, she won a prize for "Pahlawan 5K" (5K Heroes), 3,000 copies of which were
    published by Tirta Kencana.

    The book again earned her first place in an SLB teachers' competition organized by the Directorate of Extraordinary Education and published by Balai Pustaka
    in 1986. Her other book, "Menuju Kemenangan" (Towards Victory), a story set against the background of Bandung's revolutionary period, can be found in school
    libraries all over Indonesia.

    The printing of her books produced royalties, which she used to buy a computer for her husband, Didi, who is now chairman of the Indonesian Association
    for the Blind (Pertuni).

    The computer is equipped with the Job Access with Speech (JAWS) program, which can read words on the monitor and assisting the blind to become computer-
    and Internet-literate. A graduate of the pedagogic institute's English department, Didi also speaks English fluently.

    "He's a great motivator. He translated my essays that won prizes in contests, and typed them up using the computer," Wacih said proudly.

    With her two children now college students, a supportive spouse, a house and a car, she has almost everything. However, Wacih still has another dream.


    "I would like to see all blind children get the same formal education as that given provided for the sighted -- as I did -- and be allowed to fill jobs
    according to their abilities, instead of just working as masseurs as most of them have done so far," she added.