• HOME




  • Buku Tamu -- Guestbook

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Daftar Isi

  • Didi Tarsidi, "Sekarang Jauh Lebih Baik"
  • Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa
  • Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pandangan Pertama
  • Didi Tarsidi: Harus Menunggu ”Orang Normal” Terurus Dulu?
  • Blind is only a Character
  • Didi Tarsidi: Menjadi Tuna Netra Bukan Halangan
  • Wacih, a world-class braille writer
  • Wacih Kurnaesih Tarsidi: Dalam Kegelapan Rasakan Indahnya Hidup
  • DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA
  • Wacih Kurnaesih Tarsidi: Meraih Sukses dengan Braille




  • Jumat, 14 Maret 2008

    Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa

    Oleh Yenti Aprianti, Kompas, 14 November 2007

    Ia tak pernah tahu bagaimana warna hijau pada lumut. Namun, jika diminta mendeskripsikan lumut, ia bisa menceritakan kelembutan lumut yang menempel pada
    batu. Ia tak melihat bentuk air, tetapi ia berkisah tentang rasa sejuk yang merayap di atas kepala dengan detail.

    Sejak kecil ia dikaruniai penglihatan minim sehingga hanya mampu menangkap seberkas bayangan, tetapi perasaan dia mampu melihat lebih dalam tentang sesuatu
    di sekitarnya. Inilah yang menjadi modal Wacih Kurnaesih (53) sebagai penulis.

    Sejak muda Wacih menulis apa saja yang ia alami dan rasakan. Pada tahun 2003 ia menjadi juara dalam lomba esai penulisan tentang manfaat huruf braille
    Bagi tunanetra se-Asia Pasifik.

    Sebagai tunanetra yang gemar menulis dan membaca, Wacih sangat akrab dengan aksara braille. Apalagi sebagai guru Bahasa Indonesia, ia nyaris menyentuh
    Braille setiap hari dan mengajarkannya kepada murid-murid di Sekolah Luar Biasa A Negeri Bandung, Jalan Padjadjaran, Kota Bandung, Jawa Barat, sejak 27 tahun lalu.

    Pada esai yang ditulisnya, Wacih bercerita dengan bersemangat tentang bagaimana braille membantunya memperluas wawasan tentang dunia, juga membantunya
    Menyediakan makanan buat keluarga.

    "Di awal pernikahan saya menempelkan tulisan beraksara braille pada semua wadah bumbu di dapur agar tak salah memasukkan bahan yang dibutuhkan," kata Wacih
    yang setelah bertahun-tahun berkeluarga hafal wadah-wadah bumbu di dapur.

    Braille menjadi penanda yang memudahkan aktivitas para tunanetra. "Braille adalah aksara yang lahir dari sebuah budaya yang sejarahnya sangat panjang.
    Sepanjang kisah tentang manfaatnya. Itu sebabnya braille harus dilestarikan," ujarnya.

    Berpisah

    Perkenalan dengan braille dimulai saat dia berusia tujuh tahun. Wacih dilahirkan di Desa Dayeuh Luhur, kawasan wisata ziarah di Kabupaten Sumedang, Jawa
    Barat. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sejak lahir Wacih mengalami low vision atau keterbatasan penglihatan. Namun, seperti pada tunanetra lain,
    ia dikaruniai ketajaman rasa.

    Dengan kelebihan itu, ia tak memiliki kendala mengenali keluarga dan lingkungan. Ia tetap bisa bermain di luar rumah dengan teman sebaya.

    "Kalau saya main dekat kolam atau sungai, Ibu selalu melarang," kata anak petani tersebut.

    Wacih diperlakukan sama dengan saudara-saudara yang dapat melihat. Sejak kecil ia sudah tertarik membaca. Sebagian besar saudaranya lelaki dan suka membaca
    buku cerita persilatan, Wacih pun turut membaca.

    "Ketika usia saya tujuh tahun, orangtua mendengar cerita tentang sekolah khusus bagi tunanetra di Bina Netra Wyata Guna, Bandung." Jadilah sejak saat itu
    Wacih tinggal terpisah dari keluarga dan tinggal di asrama.

    Tinggal jauh dari keluarga tak masalah baginya sebab setelah bisa membaca dan menulis, ia jadi makin suka membaca buku cerita beraksara braille. "Waktu
    saya kecil, buku cerita braille sangat banyak dan beragam pilihannya," kenangnya sambil menyebutkan salah satu buku favoritnya, Rumah dan Taman.

    Di kelas Wacih pun senang menulis cerita. Guru dan teman-teman senang membaca tulisan dia. Ia melanjutkan belajar di sekolah pendidikan guru di Bandung.
    Di sekolah umum tersebut ia sering diminta mengisi majalah dinding sekolah dan berbagai majalah lokal.

    "Guru saya, Bu Murtilah, menyarankan agar saya kuliah ke jurusan Bahasa Indonesia," cerita Wacih. Saran itu diikutinya. Tahun 1978 ia melanjutkan pendidikan
    ke jenjang sarjana muda di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung yang kini berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia.

    Di perguruan tinggi pun banyak teman Wacih yang menyukai tulisannya. Dosennya memuji kemampuan dia mengungkapkan kesejukan embun di kepala, yang katanya,
    tak mungkin dibuat penulis yang dapat melihat.

    Bertemu di asrama

    Sepanjang hidup, ia menjuarai berbagai perlombaan menulis, antara lain penulisan lokal sastra untuk anak-anak yang diselenggarakan Departemen Pendidikan
    dan Kebudayaan tahun 1983 dan tahun 1986. Karena selalu juara, Wacih sampai tak diizinkan lagi ikut lomba menulis.

    Kini ia lebih banyak menjadi juri lomba penulisan. Beberapa buku tentang cerita anak karya dia telah diterbitkan, antara lain Pahlawan Lima K dan Menuju
    Kemenangan.

    Suaminya, Didi Tarsidi, yang juga tunanetra, mendukung kegemarannya menulis. "Bapak membantu saya mengetik tulisan saya dari huruf braille ke komputer,"
    kata Wacih tentang Didi.

    Wacih bertemu Didi, lelaki asal Sumedang itu, di asrama Bina Netra Wyata Guna. Didi adalah kakak kelasnya. Didi aktif sebagai Ketua Persatuan Tunanetra
    Indonesia (Pertuni). Mereka menikah pada tahun 1980 dan dikaruniai dua anak, Tommy Rinaldi (26) dan Sendy Nugraha (24). Kedua anaknya itu dapat melihat
    dan telah menjadi sarjana. "Mereka yang sering membacakan artikel di majalah atau koran untuk saya," ucap Wacih.

    Prihatin

    Sebagai guru, ia berusaha membagi pengalamannya kepada murid-murid. Ia berharap pengalaman dia bisa menjadi motivasi murid untuk maju. "Setidaknya saya
    ingin mereka bisa seperti saya. Sebab, tunanetra pun bisa melakukan beragam pekerjaan, asalkan diberi kepercayaan mencobanya," katanya meyakinkan.

    Akan tetapi, Wacih mengaku prihatin sebab kemampuan membaca dan menulis huruf braille di kalangan murid-muridnya makin hari semakin rendah. Penyebabnya,
    bacaan beraksara braille sangat jarang dijumpai saat ini.

    "Waktu saya kecil, buku braille banyak jumlah dan ragamnya. Buku anak-anak hingga dewasa tersedia. Tapi sekarang, buku braille makin sedikit diproduksi.
    Kalaupun ada, lebih banyak buku pelajaran sehingga anak tidak dapat memuaskan keinginan membaca buku yang mereka sukai," tutur Wacih.

    Ia berharap pemerintah memerhatikan kebutuhan membaca dan menulis para tunanetra. "Sebab, kemampuan baca tulis itu tergantung banyaknya bahan bacaan yang
    ada," ujarnya.

    Selain itu, ketersediaan kertas untuk menulis pun sering kali sangat terbatas di sekolah-sekolah luar biasa untuk tunanetra. Padahal, kertas bekas dari
    kantor-kantor pun bisa dipakai oleh para tunanetra untuk menulis.

    "Daripada dibuang lebih baik kertas bekas itu diberikan kepada para tunanetra," ucap Wacih yang mengidolakan penulis novel Marga T dan Mira W.

    Wacih berharap semakin banyak anggota masyarakat yang bisa melihat bersedia menolong para tunanetra dengan tak berlebihan. Sebaliknya, para tunanetra pun
    bisa melakukan hal yang sama.

    "Sebab, pada dasarnya semua manusia diberikan kemampuan untuk saling membantu meski dalam keterbatasan," kata Wacih yang memilih mewarnai hidupnya lewat
    tulisan.

    Biodata
    Nama: Wacih Kurnaesih
    Lahir: Sumedang, 30 April 1954
    Orangtua: Haris dan Eneh Hasanah
    Suami: Didi Tarsidi (56)
    Anak: Tommy Rinaldi (sarjana teknik) dan Sendy Nugraha (sarjana ekonomi)
    Pekerjaan: Guru Bahasa Indonesia di SLB A Negeri Bandung
    Pendidikan:
    - Sarjana Bahasa Indonesia dari Universitas Terbuka, 1993
    - Sarjana Muda Bahasa Indonesia dari IKIP Bandung, 1978

    Prestasi antara lain:
    - Juara I penulisan sastra cerita lokal untuk anak, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1983, "Pahlawan Lima K"
    - Juara I penulisan sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1986, "Perjalanan Menuju Kemenangan"
    - Juara se-Asia Pasifik untuk penulisan esai "Manfaat Braille bagi Tunanetra" , Onkyo, Jepang, 2003

    Label:

    Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pendengaran Pertama

    Oleh Witri Suarti, Tabloid Wanita Indonesia, 4 April 2007

    Meski buta, tak menghalangi rasa cinta Wacih Kurnaesih dan Didi Tarsidi, bahkan mereka pun berkar-ya bersama.

    Di ruangan ber-ac di studio METROTV, Wacih Kurnaesih dan Didi Tarsidi nampak serasi dengan busana warna senada.

    Malam itu mereka jadi tamu acara ‘KickAndy’ yang ditayangkan tiap kamis jam 22.30 wib . "Bukankah orang bilang penderitaan dapat membuat orang mengarang?
    Begitu juga aku," kata Wacih Kurnaesih, Sang Juara Lomba The World Blind Union (WBU) Asia Pasifik, dengan hasil karya esainya berjudul: Makna Huruf
    Braile Bagi Tunanetra.

    Sama seperti orang lain, Wacih dan Didi juga memiliki handphone. Namun tentu saja handphone ini khusus bagi tunanetra, yakni dilengkapi software sms yang
    bisa berbunyi untuk membaca sms yang dikirim. Malam itu, pasangan ini jadi pusat perhatian karena hpnya ini.

    Wacih memiliki segudang joke yang menunjukkan sense of humor yang tinggi. Ngobrol dengannya seperti bicara dengan teman lama.

    "Jika di sekolah aku pendiam dan perasa. Tapi kalau di asrama, aduh saya paling heboh menurut teman-teman," katanya. Sebelum taping KickAndy, Wacih
    mengisahkan perjuangan hidupnya bersama Didi, suami tercina.

    Asrama Membuat Mandiri

    Sejak lahir aku tak pernah melihat. Seperti tuna netra lainnya, kami juga ingin melihat indahnya dunia. Namun, kami selalu mensyukuri apa
    yang kami nikmati. Kami bisa mendengar, meraba, mencium. Kami cuma tak bisa melihat.

    Walau tak bisa melihat, sejak kecil aku orang tuaku mengajarkan aku untuk mandiri. Aku mandi, cuci, memakai sepatu dan lain-lain sendiri. Orang
    tuaku memperlakukan aku sama dengan saudaraku yang lainnya. Sejak lahir, ibuku, Enech Hasanah (almarhumah) , selalu membacakan dongeng untukku.

    Mendengarkan dongeng ibuku, satu-satunya hiburanku, masa kecil. Ketidak mampuanku melihat, membuat aku tak bisa menikmati, hal-hal yang bisa
    dinikmati orang lain. Seperti nonton televisi, rekreasi dan lain-lain.

    Ketika, aku berusia 6 tahun, ayahku Haris (almarhum) mengirimku ke Asrama Tunanetra Wiyataguna. Tak kudengar ayah dan ibu menangis melepasku tinggal
    di asrama. Padahal hatiku sedih, gundah dan gelisah. Setelah dewasa, aku baru sadar, kalau apa yang dilakukan orang tuaku, sangat bermanfaat bagiku.
    Di asrama, aku jadi lebih mandiri. Di sini aku belajar masak, menyetrika dan lain-lain.

    Di rumah aku telah diajarkan mandiri, namun aku masih bisa dibantu orang tuaku. Di asrama berbeda, benar-benar aku mandiri. Tak ada lagi tangan-tangan
    yang membantuku. Kalau ada kesulitan, misalnya mencarikan barang, aku harus mencari sendiri. Tempaan hidup di asrama membuat aku kuat.

    Namun yang membuat aku bersedih, aku tak lagi bisa mendengarkan ibuku mendongeng. Tiap-tiap liburan, aku bahagia sekali, tiap malam, tiap akan tidur,
    mendengarkan ibu mendongeng.

    Kelas V SD, guncangan terhebat menghampiriku. Ibu meninggal. Aku tak lagi bisa mendengarkan ibu mendongeng.

    Kepedihan ditinggal ibu, aku tuangkan di buku diary. Berminggu-minggu, isinya hanya tentang kesedihan. Hasilnya, tekanan kepedihan itu berkurang. Lambat
    laun aku bisa melepas kepergian ibu. Sejak itu pula aku terbiasa menautkan kata demi jadi kalimat-kalimat yang indah. Aku suka sekali mengerjakan tugas-tugas
    mengarang di SLB (Sekolah Luar Biasa) Padjajaran, Bandung. Aku selalu mendapatkan nilai terbaik di tugas mengarang. Guru bahasa Indonesia, bangga dan
    sayang padaku.

    Si Raja Duit
    Sejak kecil aku dijuluki: Wacih "Si Raja Duit" karena menciptakan uang-uangan dari kertas dengan tulisan braile sebagai penanda angka nominalnya,
    ha…ha…., karena aku suka menghitung uang, maka itu, begitu aku dewasa, aku terpilih jadi Bendahara Koperasi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).

    Kebiasaan mendengarkan ibu mendongeng inilah yang membuat aku suka sekali menulis diary hingga sekarang. Kebiasaan menulis diary ini pula yang mengantarku
    suka menulis, dan mengikuti berbagai lomba menulis, dan mendapatkan penghargaan internasional.

    Ketika SD dan SMP aku sekolah di SLB. Semua teman-temanku tuna netra. Kami sama-sama menggunakan huruf braille.

    Namun ketika aku melanjutkan pendidikan guru di sekolah umum di SPG 2 Citarum. Di sini pertama kalinya aku sekolah dengan orang normal. Aku mulai
    kesulitan. Buku-buku pelajaran semuanya tak dalam bahasa braille. Tapi, aku tak menyerah. Aku rekam suara guruku saat mengajar di kelas. Teman-temanku
    baik semua, mereka mau membacakan buku-buku pelacaran itu, dan aku merekamnya. Saat pulang sekolah aku terus menerus mendengarkan kaset-kaset itu.

    Walau tuna netra, aku punya semangat jadi yang terbaik di kelas. Aku selalu jadi juara kelas, paling tidak juara ke II. Lulus, aku mengajar pelajaran
    Bahasa Indonesia di SLB A Padjajaran Bandung.

    Sambil kerja, aku meneruskan kuliah di IKIP (kini UPI) Bandung untuk mendapatkan gelar sarjana muda (1978). Aku dites langsung oleh Ketua Jurusan
    Bahasa Indonesia IKIP, dengan 100 soal secara lisan. Di IKIP teman buleku, Helen Bloomfield, baik sekali denganku. Mungkin karena aku tunanetra. Tampa
    aku minta tolong, dia bersedia membaca buku-buku pelajaranku.

    Aku merasa berhutang budi pada Helen. Dia yang mengajarkan aku trik membaca buku pelajaran. Kata dia tak perlu baca seluruhnya, inti-intinya saja yang
    pasti keluar kalau ujian. Ia benar.

    Namun, karena ajaran Helen, aku hanya membaca 2 buku dari 12 buku wajib yang dianjurkan harus dibaca oleh dosennya. Karena tak ada bacaan berhuruf braile,
    tentu saja aku mengandalkan bantuan teman-teman untuk membacakan buku. Sebuah buku saja berhalaman ratusan. Jadi sudah cukup dibacakan 2 buku saja. Keterbatasannya
    tak menjadikan halangannya untuk menjadi mahasiswa berprestasi.

    Di kampus aku belajar bahasa Jawa, Kawi dan Sansekerta. Alhamdulillah aku bisa Bahasa Jawa dengan baik. Cuma yang jadi kendala saat itu bagaimana kelak
    saya menghadapi pelajaran bahasa Kawi dan Sansekerta? Kalau bahasa Arab ada bacaan braillenya, yang dua itu tidak. Untung aku ada akal, ketika kuliah
    aku dengarkan baik-baik kata demi kata, lalu aku tirukan saja sebisa-bisanya. Alhamdullilah aku lulus.

    Gelar Sarjana Pendidikan aku peroleh di Universitas Terbuka (UT). Ketika kuliah di UT, karena tidak banyak tatap muka, aku sering ketiduran kalau
    mendengarkan materi pelajaran dari kaset ha..ha..ha.

    Bertemu Kekasih

    Saat aku masih duduk di bangku SPG, ada lelaki yang menarik perhatianku. Namanya Didi Tarsidi, dia sama-sama tunanetra, dan kuliah di IKIP. Waktu itu,
    dia baru masuk asrama kami. Saat mengenalkan diri pada anak-anak asrama itulah aku jatuh cinta pada suaranya. Ternyata, begitu juga dengan Didi. Jika
    manusia normal, mungkin kami jatuh cinta pada pandangan pertama.

    Setelah Didi bekerja, jadi dosen di IKIP. Kemudian ia membeli rumah di Jalan H.Kurdi Baru II No. 17 Bandung, dari tabungan dan meminjam uang.
    Tak berapa lama kemudian kami menikah tahun 1980. Ah bahagianya aku, apalagi kemudian lahir Tommi Rinaldi tahun 1981. Ia lahir normal. Bagi kami
    ini semua anugerah yang tak terkira. Terima kasih Tuhan, kami berdua tunanetra, namun Kau karuniai kami anak yang normal.

    Aku sendiri yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dari masak, mencuci, menyetrika, dan mengurus Tommi. Didi juga membantuku mengurus rumah.
    Dia sendiri yang membetulkan genteng bocor, langit-langit yang bermasalah, atau bagian rumah yang rusak lainnya. Didi juga senang menyuapi Tommi, mengganti
    popoknya. Suamiku mengenal dengan baik setiap sudut rumah

    Inilah keluarga kami, kami berusaha mengerjakan sendiri. Mungkin bagi orang normal tak terbayangkan, tunanetra seperti kami bisa mengerjakan
    Seluruh pekerjaan ini. Yang terpenting bagi kami, adalah kemauan. Seperti memasak. Asalkan kita mau memasak dan tak takut api. Memasak itu gampang kok. Untuk
    merasakan tahu goreng sudah saatnya di balik, selain dari harumnya tahu yang sudah matang, aku bisa merasakan kulit tahu yang mengeras di ujung sendok
    pembalik.

    Lihat saja rumah kami ini, terlihat rapi kan? Ha …ha… padahal aku tak bisa lihat loh. Tapi aku bisa merasakan, kalau rumahku kotor, bau dan tak
    rapi, dari tangan dan penciumanku.

    Label: ,

    Wacih Kurnaesih Tarsidi: Dalam Kegelapan Rasakan Indahnya Hidup

    Oleh Uci Anwar, Pikiran Rakyat, 20 Februari 2005

    Penderitaan bisa membawa orang mengembara ke dunia imajinasi. "Bukankah orang bilang penderitaan dapat membuat orang mengarang? Begitu juga saya," yakin
    Wacih Kurnaesih Tarsidi (51), Sang Juara Lomba Esai antartunanetra se-Asia Pasifik. Penderitaannya bukan karena Wacih tak bisa melihat. Kelas 5 SD, saat-saat
    ia masih membutuhkan dekapan kasih sayang ibunda, wanita yang melahirkannya, Enech Hasanah, meninggal dunia. "Sejak kecil hiburan saya satu-satunya adalah
    mendengarkan dongeng dari ibu. Mungkin karena terbiasa mendengar dongeng, saya jadi bisa mengarang," kata Wacih

    SEMENJAK ditinggal ibu, Wacih rajin curhat pada buku hariannya. Kebiasaan ini membuatnya piawai menyatukan kata menjadi kalimat-kalimat indah dalam tugas-tugasnya
    mengarang di Sekolah Luar Biasa Pajajaran Bandung. Walhasil, sejak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di SLB serta menempuh pendidikan guru di
    sekolah umum, SPG 2 Citarum , Wacih selalu menjadi siswa kesayangan guru bahasa Indonesia.

    Ketika Desember 2004 lalu, ia mendapat penghargaan utama dari The World Blind Union (WBU) Asia Pasifik atas esainya berjudul "Makna Huruf Braile Bagi Tunanetra",
    Wacih tidak dalam kondisi menderita. Justru ia sedang berada di puncak-puncak bahagia. Memiliki suami dan anak-anak yang baik itulah kebahagiaannya kini.

    "Esai yang panjangnya tujuh halaman itu saya kerjakan hanya dalam waktu 6 jam. Saya memang suka SKS, sistem kebut semalam. Itu saya kirimkan pada hari
    Terakhir batas lomba ha..ha..ha," ujarnya terkekeh. Selain mengaku suka bekerja di bawah tekanan deadline, kesempatan Wacih menyelesaikan esai itu memang mepet.

    "Karena suami saya suka mendahulukan tugas-tugasnya, saya baru diberitahu suami tentang adanya lomba esai menjelang hari terakhir lomba." Ceritanya. "Waktu
    saya sedang mencuci, suami saya bilang ada lomba esai antarorganisasi tunanetra oleh WBU," suaminya, Didi Tarsidi, juga penyandang tunanetra, selain Ketua
    Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), sejak Desember lalu juga terpilih menjadi Wakil Ketua The World Blind Union untuk Asia Pasifik.

    Dari Pertuni bukan ia seorang yang mengirimkan esai. Ada 51 esai lainnya yang disaring menjadi 15 dan akhirnya 5 besar. Kelima esai wakil dari Indonesia
    ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Didi Tarsidi yang Dosen Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

    "Hadiahnya jam tangan ini dan uang," kata Wacih berbinar.

    **

    SAAT ini Wacih mengajar di SLB A Pajajaran Bandung untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Gelar Sarjana Pendidikan diperolehnya dari Universitas Terbuka (UT).
    Sedangkan Sarjana Mudanya dari IKIP (kini UPI) Bandung. Sejak SD hingga memperoleh gelar sarjana muda tahun 1978, ia selalu menjadi yang terbaik, paling
    tidak kedua terbaik. "Tapi waktu kuliah di UT, karena tidak banyak tatap muka, saya sering ketiduran kalau mendengarkan materi pelajaran dari kaset ha..ha..ha,"
    ujar Wacih.

    "Teman-teman saya baik semua. Mereka sering menjadi reader (pembaca) bagi saya. Di kelas di IKIP ada dua siswa yang selalu menjadi perhatian, yaitu seorang
    siswa tugas belajar dari Australia, Helen Bloomfield dan saya, karena saya tunanetra."

    Kepada Helen, Wacih merasa berutang budi tak terhingga. Bule satu ini mengajarkan trik membaca buku pelajaran. "Ia bilang tak perlu baca seluruhnya, inti-intinya
    saja yang pasti keluar kalau ujian. Dan ia benar".

    Namun bukan karena ajaran Helen ia hanya membaca 2 buku dari 12 buku wajib yang dianjurkan harus dibaca oleh dosennya. Karena tak ada bacaan berhuruf braile,
    tentu saja ia mengandalkan bantuan teman-temannya untuk membacakan buku baginya. "Sebuah buku saja berhalaman ratusan. Jadi sudah cukup dibacakan 2 buku
    saja," kata Wacih. Keterbatasannya tak menjadikan halangannya untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Tak sia-sia Ketua Jurusan Bahasa Indonesia waktu itu
    terjun langsung mengetes Wacih saat ia akan masuk ke IKIP.

    Dulu, belum memakai sistem penerimaan mahasiswa baru. Cukup di tes saja. Saya dites oleh ketua jurusan lebih dari 100 soal secara lisan. Alhamdulillah
    Saya bisa jawa dengan baik. Cuma yang jadi kendala saat itu bagaimana kelak saya menghadapi pelajaran bahasa Kawi dan Sanskerta. Kalau bahasa Arab ada bacaan
    brailenya, yang dua itu tidak," katanya. Tetapi Wacih pintar. "Saya dengarkan baik-baik kata demi kata, lalu saya tirukan saja sebisa-bisanya. Alhamdullilah
    semua pelajaran tak pernah tidak lulus,"

    Kendati memiliki keterbatasan fungsi indra melihatnya, Wacih tak pernah mengasihani diri sendiri. Berbincang dengan Wacih serasa berbincang dengan teman
    lama. Ia memiliki segudang joke yang menunjukkan sense of humor yang tinggi. "Jika di sekolah saya pendiam dan perasa. Tapi kalau di asrama, aduh saya
    paling heboh menurut teman-teman," katanya.

    Wacih asli Sumedang. Namun sejak kelas 1 SD ibu dan ayahnya, Haris (alm.) mengirimnya ke Asrama Tunanetra Wiyataguna. Sejak kecil ia sudah dikenal supel
    dan kreatif. Wacih dijuluki "Si Raja Duit" karena menciptakan uang-uangan dari kertas dengan tulisan braile sebagai penanda angka nominalnya.

    "Karena saya suka menghitung uang, makanya saya dipilih jadi Bendahara Koperasi Pertuni," katanya sambil tertawa.

    **

    KETUNANETRAAN tak pernah membuatnya minder. Ia bahkan menghargai kehidupan yang penuh warna ini. Namun satu kali ia sempat mengkhawatirkan perasaan anaknya.
    Saat anaknya Tommy Rinaldi kelas 5 SD, guru kelasnya meminta orang tua yang mengambil rapornya. Ketika Wacih mengajukan seorang kakaknya untuk mengambilkan
    rapor, Tommy menolaknya."Kan uwak bukan orang tua Ma, kata Tommy. Oo, ternyata ia tidak malu membawa saya," kenang Wacih terharu. Maka pergilah ia ke SD
    Mohammad Toha Bandung dituntun Tommy. Karena jalannya lambat, banyak orang merasa terhalangi, namun serta-merta memakluminya dengan mengatakan "Oh, paingan
    teu ningal, kata orang. Langsung Tommy menegur..Eh! " ceritanya.

    Saat ini pun kedua anaknya yang lahir dengan karunia indra mata yang sehat, tak segan-segan mengenalkan pacar-pacar mereka pada ibundanya. Tommy Rinaldi
    (23) dan Shandy Nugraha (22), masing-masing mahasiswa Geologi Universitas Padjadjaran dan Universitas Islam Bandung. Walaupun kini Wacih punya sopir pribadi,
    kedua anaknya ini rajin mengantarnya ke mana-mana.

    "Saya pernah sedih sekali waktu baru punya anak satu. Waktu itu Tommy baru 9 bulan. Ketika saya gendong mainannya jatuh. Ya saya lepaskan dia dari gendongan,
    untuk mencari mainannya yang jatuh," kenang Wacih.

    Tetapi bersama suaminya, Wacih tak menyesali nasib. Mereka berperan maksimal sebagai orang tua. Mereka mengajarkan kemandirian bagi putra-putranya. Karena
    keduanya sibuk bekerja mereka terpaksa mempekerjakan pembantu rumah tangga. Namun agar kedua anaknya tidak bergantung pada pembantu, sejak Tommy dan Shandy
    kelas 5 dan 3 SD, pembantu dihentikan. "Mereka sudah bisa naik angkot pulang pergi ke sekolah." Tenaga pembantu rumah tangga dibutuhkan memang hanya untuk
    mengantar mereka sekolah. Semua pekerjaan rumah dilakukan Wacih. Mulai dari mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, hingga memasak.

    "Pembantu sering berganti-ganti. Sayalah yang mengajarkan pembantu memasak," ujarnya.

    Wacih pandai memasak. Untuk merasakan tahu goreng sudah saatnya di balik, ia bisa merasakan kulit tahu yang mengeras di ujung sendok pembalik selain dari
    keharumannya. "Untuk kita yang tunanetra memasak itu gampang, yang penting tidak takut api," jelasnya.

    Rumahnya di Jalan H.Kurdi Baru II No. 17 Bandung, tampak rapi dan bersih. Perempuan penyuka bunga ini memajang beberapa bunga plastik di pojok-pojok rumahnya.
    Sejak menikah, mereka langsung mendiami rumah mungil ini. Didi membeli rumah itu 3 bulan sebelum mereka menikah. Wyataguna adalah tempat kenangan mereka.
    Didi adalah teman main sejak kecil karena sama-sama tinggal di asrama.

    Sebelumnya Wacih juga sering mendapat penghargaan sebagai penulis cerita anak dari Dirjen Pendidikan. Salah satunya cerita tentang "Pahlawan 5 K" yang
    Meraih perhargaan Juara I mengarang guru dan kepala SLB. "Waktu mengambil hadiahnya di Jakarta saya menggendong Tommy yang baru 3 bulan. Untung panitianya baik
    saya boleh bawa anak," katanya. Ia juga merasakan kerepotan laiknya ibu-ibu rumah tangga yang lain. Karena KB gagal, usia kedua anaknya bertaut dekat.
    "Biar ada pembantu, saya utamakan mengurus mereka. Dari bayi saya yang memandikan mereka. Untung saya punya suami yang luar biasa baik. Selalu menolong
    pekerjaan rumah tangga," pujinya.

    Belum cukup dengan kesibukannya sebagai pengajar, Wacih juga masih rajin berjualan baju. "Saya kreditkan baju-baju dagangan ke teman-teman. Tapi saya suka
    pilih-pilih yang sesuai selera saya. Kalau tak laku ya saya pakai ha..ha..ha" katanya tentang trik dagangnya.

    Wacih punya selera yang baik dalam berpakaian. Ia sendiri yang memilih model dan bahan baju yang akan dijahit. Terkadang ia membeli jadi. "Saya baru berkerudung
    selama tiga tahun ini. Banyak teman-teman saya membujuk, katanya saya sudah baik , tinggal pakai kerudungnya saja he..he..."

    Ia memilih baju dengan meraba bahannya. "Jika saya suka, saya tanya pedagangnya punya warna apa. Saya suka warna biru, ungu dan merah," ujar Wacih saat
    diwawancara mengenakan busana muslim serba biru termasuk kerudungnya.

    Karena sejak lahir tak melihat, ia sendiri tak tahu definisi biru itu. Namun ia meyakini ia suka warna tersebut. Dengan penampilan sore itu, ia memang
    Pantas dalam kemasan biru. "Waktu bapak pulang dari Cape Town (Afrika Selatan) untuk mengambil hadiah saya, katanya di sana ada peralatan yang bisa untuk membedakan
    warna. Kalau alat itu disentuhkan pada benda berwarna biru maka alat itu akan bilang blue..blue..blue. Tapi kata bapak mahal," ujar Wacih yang suka jalan-jalan
    ke mal ITC Bandung untuk berbelanja.***

    Label:

    Wacih Kurnaesih Tarsidi: Meraih Sukses dengan Braille

    Oleh Dwi Wiyana, Koran Tempo, 7 January 2005

    Jangan pernah menyerah pada keterbatasan. Ny. Wacih Kurnaesih Tarsidi, 50 tahun, paham betul dengan semangat di balik kata-kata tersebut. Sebab itu, penyandang
    tunanetra sejak kecil ini tak pernah patah semangat dalam menjalani hidup. Anak pasangan almarhum Haris dan Ny. Neh Hasanah ini yakin Allah akan memberikan
    kemudahan di balik keterbatasan fisik yang dimilikinya.

    Di kemudian hari, keyakinan itu memang terbukti. Sejumlah prestasi dapat diraih oleh ibu dua anak ini. Prestasi terbaru, istri Didi Tarsidi, 53 tahun,
    ini menyabet Excellent First Prize pada Ongkyo Braille Essay Contest (International Section) se-Asia Pasifik, akhir Oktober lalu.

    Ia menyisihkan puluhan peserta dari 12 negara. Penghargaan atas prestasinya itu diterima suaminya, Didi--yang juga Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia--dalam
    acara konferensi "World Blind Union Asia Pacific", di Cape Town, Afrika Selatan, pada 5-10 Desember lalu.

    "Atas dorongan suami, saya coba-coba ikut lomba itu, dan ternyata menang," kata Wacih, saat ditemui di rumahnya, Rabu (5/1) sore. Dalam lomba itu, tema
    yang disodorkan panitia adalah "Makna Braille bagi Tunanetra". Lalu, pengajar tingkat SMP dan SMA di Sekolah Luar Biasa Negeri A (untuk tunanetra) di Jalan
    Padjadjaran, Bandung, itu menuangkan tema itu dalam esai bertajuk "Meraih Sukses dengan Braille". Tentu saja, judul itu bukan sembarang judul. Sebab, Wacih
    sudah merasakan sendiri manfaat--juga meraih sukses--dari huruf-huruf Braille itu. Ia bisa membaca, menulis, dan mengarang, semuanya dalam huruf Braille.

    Selanjutnya, untuk dilombakan di tingkat Asia-Pasifik, esai Wacih dan empat naskah lain dari Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Didi.
    Dalam urusan ini, suami Wacih itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Maklum, ia adalah sarjana bahasa Inggris dari IKIP Bandung--sekarang Universitas
    Pendidikan Indonesia. Dalam proses ini, keberadaan komputer dengan software Jaws50 di rumah Didi sangat membantu. Sebab, perangkat lunak yang bisa mengeluarkan
    suara saat keyboard komputer ditekan--juga bisa membaca tulisan di layar komputer--menjadi pemandu brilian dalam pengetikan huruf demi huruf sehingga terlepas
    dari kesalahan.

    Sejatinya, selain memenangi Ongkyo Braille Essay Contest, sejumlah kejuaraan lain pernah disabet Wacih. Antara lain, pada 1983, ia meraih juara pertama
    sayembara mengarang guru-guru SLB se-Indonesia. Karangannya bertajuk Pahlawan Lima K sudah dibukukan dan diedarkan untuk umum dalam huruf-huruf Latin.
    Pada 1986, kemenangan yang sama diraihnya. Kali ini, karangannya--juga dibukukan--berjudul Perjalanan Menuju Kemenangan.

    Cuma, gara-gara kemenangan yang berulang itu, panitia sempat melarang Wacih ikut sayembara serupa pada tahun berikutnya. "Mungkin, untuk pemerataan (pemenang),"
    kata Wacih sembari tersenyum. Sarjana bahasa Indonesia Universitas Terbuka, yang juga menulis buku bertajuk Matahari Bersinar Lagi (1985) dan Menuju Kemenangan
    (1995), ini pun tak keberatan.

    Label: